
Asma adalah peradangan pada saluran pernapasan yang ditandai dengan menyempitnya saluran pernapasan sehingga menimbulkan sesak. Gangguan pernapasan mengakibatkan penderitanya kesulitan atau bahkan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Bahkan pada beberapa kasus, asma bisa memicu terjadinya komplikasi asma yang berujung pada kematian.
Sampai saat ini, masih cukup banyak mitos dan fakta seputar asma yang beredar di Indonesia. Padahal, salah penanganan dapat mengakibatkan komplikasi asma dan kematian. Berikut mitos dan fakta yang sering ditemui di masyarakat terkait asma:
Mitos 1: Asma terjadi karena masalah saraf dan psikologis.
Faktanya: Asma adalah penyakit yang melibatkan paru-paru dan saluran pernapasan. Gejala asma terjadi karena penyempitan saluran pernapasan, disertai dengan peradangan. Hal ini dipicu oleh banyak hal, seperti debu, cuaca dingin, serbuk sari bunga, dan tungau.
Mitos 2: Asma adalah penyakit saluran pernapasan, bukan penyakit paru.
Faktanya: Gangguan pernapasan pada asma terletak pada alveolus dimana ini merupakan bagian paru. Jadi, penyakit paru bukan hanya TBC saja, namun asma merupakan salah satu penyakit paru. Oleh karena itu, dokter yang menanganipun dokter spesialis paru dan pernapasan.
Mitos 3: Penyakit asma bisa disembuhkan.
Faktanya: Asma adalah penyakit kronis yang dipicu oleh kelainan patologis genetis, sifat alergi yang menyebabkan asma akan selalu menetap. Karenanya, penderita asma tidak dapat terbebas 100% dari penyakitnya itu. Akan tetapi, gejala asma bisa dikendalikan dengan menggunakan obat pengontrol secara teratur. Jika gejala asma sudah bisa dikontrol, penderita asma pun dapat beraktivitas seperti orang lain. Serangan asma bisa terjadi lagi apabila penderita terpapar faktor pencetus. Karena itu, penderita asma harus menghindari faktor pencetus asma yang bisa berasal dari dalam dan luar tubuh, seperti rasa cemas berlebihan, stres, debu, udara dingin, bulu binatang, polusi udara, dan lain sebagainya.
Mitos 4: Pengobatan asma dengan inhaler dapat menyebabkan kecanduan.
Faktanya: Tidak membuat kecanduan. Justru, pengembangan obat asma dalam bentuk aerosol yang pemakaiannya menggunakan alat inhaler ini merupakan kemajuan terpenting dalam pengobatan asma. Dulu, obat asma harus diminum atau disuntikkan. Dalam jangka panjang hal itu dapat mengakibatkan efek samping, seperti darah tinggi, penyakit gula, tulang keropos, dan lain sebagainya. Dengan penggunaan inhaler, efek samping tersebut dapat dihindari. Obat pun bekerja langsung pada sasaran, yaitu saluran napas, sehingga tidak menyebar ke mana-mana. Dosis yang diberikan juga lebih kecil, yaitu 1/20 dosis minum, sehingga efek samping lebih rendah.
Mitos 5: Suplemen dapat mengatasi asma.
Faktanya: Hal tersebut tidak sepenuhnya tepat. Saat ini, beredar berbagai suplemen yang diyakini dapat menyembuhkan asma. Namun, sampai sejauh ini belum ada penelitian ilmiah yang dapat membuktikan bahwa suplemen tersebut benar-benar efektif untuk pengobatan asma.
Saran terbaik yang dapat diberikan untuk penderita asma adalah mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, seperti buah, sayuran, makanan rendah lemak, dan tinggi serat.
Mitos 6: Penderita yang kambuh, harus segera merebahkan tubuh sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Faktanya: Mitos ini jelas salah. Penderita yang kambuh justru harus mengatur napasnya dalam posisi duduk. Posisi ini membuat rongga paru menjadi lebih terbuka sehingga memudahkan penderita untuk mendapatkan oksigen. Jangan lupa untuk merenggangkan bagian-bagian yang mengikat seperti tali bra, ikat pinggang, dan baju yang menumpuk—misalnya jaket atau sweater.
Mitos 7: Anak penderita asma pasti juga menderita asma.
Faktanya: Meski sebagian besar asma bersifat genetis, masih ada kemungkinan anak dari orang tua penderita asma tidak menderita asma. Asma merupakan salah satu bentuk alergi. Sifat alergi inilah yang diturunkan orang tua kepada anaknya, bukan penyakit asma itu sendiri. Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh American Journal of Repiratory and Critical Care Medicine, menyebutkan, bila salah satu dari orang tua seorang anak menderita asma, maka risiko anak tersebut mengidap asma tiga kali lebih besar daripada orang lain yang orang tuanya tidak mengidap asma. Dan, apabila kedua orang tuanya menderita asma, maka risiko anak tersebut mengidap asma enam kali lebih besar.
Mitos 8: Asma mudah kambuh bila berada ditempat yang lembab.
Faktanya: Tidak benar. Penderita asma justru disarankan untuk sering berada pada tempat yang udaranya lembab untuk mengurangi serangan asma. Tempat dengan kelembaban tinggi mengandung uap air yang tinggi sehingga membuat penderita asma merasa lebih baik.
Mitos 9 : Penderita asma tidak boleh berolahraga.
Faktanya: Pernyataan tersebut juga tidak benar. Penderita asma juga butuh berolahraga untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Hanya saja olahraga yang boleh dilakukan oleh penderita asma adalah olahraga ringan yang tidak terlalu melelahkan.
Sumber Artikel:
P2PTM KEMKES (2017). http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/mitos-dan-fakta-tentang-asma
Farmaku (2020). https://www.farmaku.com/artikel/mitos-fakta-penyakit-asma/
Klikdokter.com (2017). https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3183257/7-mitos-tentang-asma-yang-masih-banyak-dipercaya
Sumber Gambar:
https://www.vectorstock.com/royalty-free-vector/asthma-man-medicine-vector-37072865