Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang ditandai dengan kelengkungan tulang belakang ke arah samping, lebih dari 10 derajat pada gambar rontgen. Jika diperhatikan, bagian punggung akan membentuk huruf “S” atau “C”. Kebanyakan kasus gangguan muskuloskeletal ini tidak menimbulkan gejala. Namun seiring bertambahnya usia, kelengkungan tulang belakang bisa semakin parah.1

Tanda dan Gejala Skoliosis

Pada kasus yang ringan, skoliosis terkadang tidak menimbulkan gejala. Namun, orang lain mungkin memperhatikan gejalanya melalui perubahan penampilan fisik. Beberapa gejala atau ciri-ciri skoliosis adalah sebagai berikut: 1

1. Bahu miring.

2. Dimensi pinggang kiri dan kanan tidak sejajar.

3. Salah satu pinggul lebih tinggi dari yang lain ketika berdiri tegak.

4. Terdapat penonjolan tulang belikat pada salah satu sisi badan.

5. Salah satu kaki mempunyai panjang yang berbeda-beda ketika berdiri.

6. Posisi kepala tidak tepat di tengah bahu.

7. Hampir 23% penderita skoliosis mengeluh nyeri punggung.

Faktor Risiko Skoliosis

Pada kebanyakan kasus, penyebab pasti dari skoliosis tidak dapat diketahui. Namun ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya, yaitu: 2

1. Usia. Meskipun bisa terjadi pada semua usia, kelainan tulang belakang ini lebih sering terjadi pada anak-anak, remaja, dan lansia.

2. Jenis kelamin. Dibandingkan dengan anak laki-laki, risiko skoliosis lebih tinggi pada anak perempuan.

3. Riwayat keluarga. Meskipun jarang, memiliki anggota keluarga dengan riwayat skoliosis dapat meningkatkan

Penyebab Skoliosis             

Seperti dikutip dari Mayo Clinic, penyebab paling umum dari skoliosis belum diketahui. Namun, skoliosis tampaknya berkaitan dengan faktor genetik, karena kelainan ini terkadang diturunkan dalam keluarga.3 Sementara itu, penyebab skoliosis yang kurang umum adalah kondisi neurologis otot, suatu kondisi yang menunjukkan gangguan fungsi saraf dan otot, seperti otot yang semakin melemah dan kehilangan kekuatan (distrofi otot) atau kelumpuhan otak yang mempengaruhi gerakan dan koordinasi otot (cerebral palsy); cacat bawaan lahir, cedera, infeksi tulang belakang, dan osteoporosis.1

Pencegahan Skoliosis

Kebanyakan kasus skoliosis tidak dapat dicegah karena berhubungan dengan cacat lahir dan masalah genetik. Namun bila penyebab utama skoliosis adalah osteoporosis, maka pencegahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1

1. Meningkatkan penyerapan kalsium dan vitamin D pada makanan, seperti sayuran hijau, ikan, telur, daging merah, serta susu dan yogurt yang diperkaya dengan vitamin D.

2. Olah raga teratur, berhenti merokok dan batasi asupan.

3. Jika berisiko terkena osteoporosis, mungkin perlu dipertimbangkan untuk mengonsumsi obat untuk membangun struktur.

Hingga saat ini, memperbaiki postur tubuh belum terbukti efektif mencegah skoliosis. Namun, kita tetap perlu membiasakan duduk dengan postur yang benar agar terhindar dari masalah tulang belakang yang lainnya.

Referensi:

1. Puji, Aprinda. Sherlene, Santoso MD. Ariani Setiaputri, Karinta. Skoliosis. 2023. Hello Sehat. https://hellosehat.com/muskuloskeletal/tulang-sendi-lainnya/pengertian-skoliosis/

2. Editorial Halodoc. Skoliosis. 2023. Halodoc. https://www.halodoc.com/kesehatan/skoliosis

3. Mayo Clinic Staff. Scoliosis. 2023. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/scoliosis/symptoms-causes/syc-20350716

Sumber Gambar :

1. https://kliniktulangbelakang.com/skoliosis-pada-remaja-kurus-lebih-berisiko/