Tantangan sektor pertanian global semakin meningkat seiring lonjakan populasi manusia dan perubahan iklim ekstrem. Salah satu inovasi bioteknologi modern yang hadir sebagai solusi adalah buah hasil rekayasa genetika atau Genetically Modified Organism (GMO). Melalui teknologi ini, ilmuwan mengubah materi genetik buah secara sengaja untuk menghasilkan sifat baru yang tidak dimiliki secara alami. Meski menawarkan potensi besar dalam mengatasi kelaparan dan kerugian pascapanen, inovasi ini masih memicu perdebatan global terkait dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem.

Apa Itu Buah Hasil Rekayasa Genetik?

Berdasarkan ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, buah hasil rekayasa genetika dikategorikan sebagai Pangan Produk Rekayasa Genetik (Pangan PRG) atau pangan transgenik. BPOM RI menjelaskan bahwa Pangan PRG mencakup produk yang menggunakan bahan hasil rekayasa genetik. Proses ini melibatkan pemindahan gen dari satu organisme ke organisme lain untuk menciptakan jenis baru dengan keunggulan tertentu. Dengan demikian, buah hasil rekayasa genetik adalah produk buah (segar maupun olahan) yang berasal dari tanaman dengan susunan genetik yang telah dimodifikasi melalui bioteknologi modern (teknik transgenik) atau pengeditan genom untuk meningkatkan kualitasnya.

Para ilmuwan mengembangkan buah-buahan hasil rekayasa genetika ini dengan karakteristik agronomi unik yang sering kali sulit dicapai melalui pemuliaan konvensional. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan spesifik petani dan konsumen. Namun, beberapa varietas yang telah mendapat persetujuan dari lembaga keamanan pangan pada akhirnya tidak dikomersialkan, atau sempat dikomersialkan tetapi kemudian ditarik dari pasar.

Contoh Buah Hasil Rekayasa Genetik

Berikut adalah beberapa contoh buah yang dikembangkan melalui rekayasa genetik:

- Nanas dengan daging buah berwarna merah muda

- Pepaya Rainbow yang tahan serangan ringspot virus

- Summer squash GMO yang tahan terhadap beberapa virus tanaman

- Apel arctic yang tidak mudah berubah warna menjadi cokelat setelah dipotong

- Terong yang tahan terhadap hama penggerek buah dan pucuk terong.

- Strawberry yang mengalami peningkatan kadar gula terlarut.

- Jagung Bacillus thuringiensis yang menghasilkan protein yang beracun bagi hama serangga tertentu tetapi tidak bagi manusia, hewan peliharaan, ternak, atau hewan lainnya.

Keamanan dari Buah Hasil Rekayasa Genetik

The Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan bahwa buah hasil rekayasa genetika yang beredar di pasaran telah melalui serangkaian uji keamanan terhadap kesehatan manusia sehingga dinyatakan aman untuk dikonsumsi.4 Selain itu, buah hasil rekayasa genetik sama halnya dengan pangan PRG lainnya apabila sudah dinyatakan aman untuk dikonsumsi dan dijual dalam kemasan maka label pangan wajib mengikuti PP No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.

Menurut BPOM RI, pengkajian keamanan pangan hasil rekayasa genetika secara umum meliputi enam aspek utama:

1. Efek langsung terhadap kesehatan (toksisitas);

2. Kecenderungan untuk menyebabkan reaksi alergi (alergenisitas);

3. Komponen spesifik yang diduga mempunyai sifat zat gizi atau sifat toksik;

4. Stabilitas dari gen yang disisipkan;

5. Efek nutrisi terkait dengan modifikasi genetika;

6. Efek lain yang tidak diharapkan yang mungkin timbul sebagai akibat dari penyisipan gen.

Walaupun buah hasil rekayasa genetik yang dipasarkan sudah dinyatakan aman oleh BPOM RI, banyak pula yang meragukannya, antara lain sebagai berikut:

1. Buah dari tanaman transgenik berpotensi mengandung zat yang beracun atau menimbulkan reaksi alergi.

2. Perubahan gen yang berbahaya, tak terduga, atau tak diinginkan.

3. Berkurangnya zat gizi atau kandungan lain karena proses persilangan gen.

4. PRG menyebabkan tubuh kebal terhadap antimikroba alami.

Manfaat Buah Hasil Rekayasa Genetik

Manfaat yang dapat diperoleh dari buah hasil rekayasa genetika, diantaranya:

- Kandungan gizi yang lebih tinggi

- Warna buah tidak cepat berubah setelah dipotong

- Rasa buah yang lebih manis dan enak

- Masa simpan yang lebih lama

- Minimnya sisa pestisida pada buah karena buah tahan terhadap serangan hama

Kehadiran buah hasil rekayasa genetika di meja makan kita adalah bukti nyata bahwa sains mampu mengubah cara manusia memproduksi pangan demi menghadapi tantangan zaman. Kunci utama pemanfaatan teknologi ini terletak pada edukasi yang merata bagi konsumen. Dengan menjadi konsumen yang cerdas dan kritis, serta mengandalkan standar keamanan pangan dari lembaga berwenang, kita dapat memetik manfaat terbaik dari inovasi modern ini tanpa mengabaikan aspek kesehatan.

Referensi: