Desember, 2019, wabah Coronavirus Disease 2019 terjadi di Wuhan, Provinsi Hubei, China dan menyebar dengan cepat ke seluruh China, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Pada 12 Februari 2020, WHO mengumumkan bahwa wabah ini merupakan pandemik dan melaporkan sekitar 1,3 juta kasus dengan 79.000 kematian hingga 9 April 2020.
Bukti klinis menunjukkan bahwa Coronavirus Disease 2019 merupakan sindrom pernafasan akut yang dapat ditularkan dari orang ke orang. Berdasarkan penelitian yg melibatkan 1099 pasien di Cina, ditemukan bahwa gejala umum COVID-19 adalah demam, batuk dan sesak, hidung tersumbat, mual, muntah, dan diare. Penelitian lain di Korea Selatan, Iran, Jerman, Itali, Spanyol, Perancis, Belgia, Inggris, dan Amerika menemukan hal lain dari gejala-gejala umum yang sebelumnya telah digambarkan tersebut, yaitu temuan gejala gangguan penciuman yang biasa dikenal dengan anosmia yang terjadi dengan atau tanpa gangguan pengecapan pada pasien COVID-19.
British Association of Otorhinolaryngology menyebutkan hilangnya kemampuan indra penciuman atau anosmia sebagai salah satu gejala pasien Covid-19. Sekitar 30% orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Korea Selatan mengalami anosmia, terutama pada mereka yang mengalami gejala ringan. Kejadian anosmia pada penderita COVID-19 juga dilaporkan oleh Gilani dkk. (2020), dimana ditemukan 5 pasien yang positif COVID-19 mengalami anosmia. Kejadian anosmia ini diduga berhubungan dengan adanya gangguan pada sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer.
Senada dengan hal tersebut, World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah mencantumkan gejala anosmia atau kehilangan kemampuan penciuman sebagai salah satu gejala COVID-19 yang patut diwaspadai. Namun, tak berarti semua yang mengalami anosmia pasti terkait dengan COVID-19.
Anosmia adalah hilangnya indra penciuman sebagian atau seluruhnya yang dapat bersifat sementara atau permanen. Anosmia seringkali disebabkan oleh pembengkakan atau penyumbatan di hidung yang mencegah bau tak sedap sampai ke bagian atas hidung. Anosmia terkadang disebabkan oleh masalah pada sistem saraf yang mengirimkan sinyal dari hidung ke otak, kerusakan otak atau saraf yang berpengaruh pada indra penciuman. Anosmia juga bisa terjadi karena kasus tertentu, seperti adanya polip hidung, tumor dan juga kelainan tulang di dalam hidung atau yang disebut septum hidung, Usia tua juga terkadang menyebabkan anosmia. Dalam banyak kasus, anosmia akan hilang dengan sendirinya dan hanya bersifat sementara, tetapi dapat berdampak besar pada kualitas hidup seseorang.
Untuk mendiagnosis anosmia sendiri diperlukan pemeriksaan awal untuk memastikan apakah kasus yang dialami merupakan anosmia murni atau terkait penyakit lain. Jika anosmia disertai dengan gejala umum COVID-19 seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan dan sesak, maka mungkin saja pasien terpapar COVID-19. Namun, jika tidak ada kecurigaan COVID-19, dokter akan mencari tahu penyebab terjadinya anosmia dengan melakukan pemeriksaan fisik, seperti CT Scan, MRI, X-ray tengkorak, dan endoskopi hidung.
(Medical Affairs/FH)
Sumber:
Cafasso J.What Is Anosmia? https://www.healthline.com/health/anosmia . Updated on August 29, 2019.
Gilani S, Roditi R, Naraghi M. COVID-19 and anosmia in Tehran, Iran. Medical Hypotheses. 141 (2020) 109757.
Meng X., Deng, Y., Dai, Z., Meng, Z. COVID-19 and anosmia: A review based on up-to-date knowledge. Am J Otolaryngol 41 (2020) 102581.
Sumber Gambar:
https://kids.grid.id/read/472270450/