Pandemi Covid-19 telah berlangsung hampir setahun. Berbagai penelitian mengenai metode diagnosis dan metode pengobatan yang tepat, serta vaksin untuk menghentikan penyebaran SARS-CoV-2 sebagai virus penyebab Covid-19 masih dilakukan. Hingga kini, gejala klinis yang umumnya dijumpai pada seseorang yang terinfeksi SARS-CoV-2 mencakup demam, kelelahan atau tidak enak badan, batuk kering, sesak nafas, nyeri dada, serta nyeri otot dan sendi. Gejala klinis lain yaitu sakit perut, mual, muntah, dan diare. Selain beberapa gejala tersebut, pada beberapa kasus, dijumpai pula gejala lain yang merupakan manifestasi neurologis dari adanya infeksi SARS-CoV-2 yaitu pusing, kejang, anosmia atau kehilangangan kepekaan terhadap bau, dan sakit kepala.

Sakit kepala pada dasarnya merupakan gejala yang juga dilaporkan terjadi pada infeksi virus lain, misalnya pada demam berdarah dan cikungunya yang banyak terjadi pada daerah tropis, sehingga tidak spesifik untuk Covid-19 saja. Sakit kepala pada pasien Covid-19 dapat menjadi gejala awal terjadinya infeksi SARS-CoV-2, dapat pula menjadi gejala lanjut, namun ciri-cirinya belum digambarkan secara jelas. Hal tersebut menyebabkan sakit kepala dapat dianggap oleh pasien sebagai sakit kepala karena penyebab lain dan akhirnya diabaikan. Pasien baru berobat ketika telah mengalami gejala Covid-19 lainnya, bahkan mungkin telah menularkan virus SARS-CoV-2 kepada orang-orang di sekitarnya.

Dengan tidak mengabaikan gejala klinis lainnya, adanya sakit kepala yang dialami dapat dikenali sebagai salah satu gejala adanya infeksi SARS-CoV-2 dengan memperhatikan ciri-cirinya, seperti yang dipaparkan dalam beberapa hasil studi.  Sakit kepala yang terjadi sebagai gejala Covid-19 pada seseorang yang pernah mengalami sakit kepala sebelumnya akan sangat berbeda dengan sakit kepala yang pernah dialami. Salah satu studi yang dimuat dalam jurnal Chepalalgia menunjukkan bahwa sakit kepala pada pasien Covid-19, umumnya digambarkan sebagai sakit kepala menekan atau berdenyut dan menyebar di sekeliling kepala, timbulnya sakit kepala diserta demam, lebih sering dialami oleh pasien yang pernah mengalami sakit kepala sebelumnya, pasien yang mengalami dehidrasi, dan pasien yang memiliki penyakit komorbid atau penyakit penyerta. Sakit kepala dengan intensitas nyeri yang tinggi, dialami oleh pasien berjenis kelamin perempuan, mengalami demam, dan mengalami dehidrasi.

Hasil studi lain yang dimuat dalam The Journal of Headache and Pain menunjukkan bahwa sakit kepala pada pasien Covid-19 sebagian besar disertai terjadinya anosmia, diare, sakit perut, serta mual. Sakit kepala akibat infeksi SARS-CoV-2 juga berlangsung selama lebih dari 2 hari dan umumnya dialami oleh laki-laki.

Tetaplah berhati-hati dan segeralah berkonsultasi dengan dokter jika mengalami sakit kepala dengan ciri-ciri tersebut. Terlebih jika mengalami sakit kepala yang benar-benar berbeda daripada sakit kepala yang pernah dialami sebelumnya dan tidak sembuh secara menetap ketika telah mengkonsumsi obat sakit kepala karena pada beberapa kasus, dilaporkan bahwa sakit kepala akibat infeksi SARS-CoV-2 sembuh setelah mengkonsumsi obat, namun timbul kembali beberapa jam kemudian.

 

Tetap jaga kesehatan, semoga sehat selalu!

 

(Medical Affairs/DP)

               

Sumber Artikel:

Mutiawati E, Syahrul S, Fahriani M et al. Global prevalence and pathogenesis of headache in COVID-19: A systematic review and meta-analysis [version 1; peer review: 1 approved with reservations]. F1000Research 2020, 9:1316 

Magdy R, Hussein M, Ragaie C, et al. Characteristics of headache attributed to COVID-19 infection and predictors of its frequency and intensity: A cross sectional study. Cephalalgia. 2020;40(13):1422-1431.

Uygun, Ö., Ertaş, M., Ekizoğlu, E. et al. Headache characteristics in COVID-19 pandemic-a survey study. J Headache Pain 21, 121 (2020)

 

Sumber Gambar:

<a href="https://www.vecteezy.com/free-vector/man">Man Vectors by Vecteezy</a>