Hingga saat ini hipertensi masih menjadi suatu masalah yang cukup besar dalam kesehatan dunia, berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2015 menunjukkan sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menderita hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penyandang hipertensi terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang  yang terkena hipertensi, dan diperkirakan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi dan komplikasinya. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa peningkatan prevalensi hipertensi dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta adalah 34,1% dibandingkan 27,8% pada Riskesdas tahun 2013. Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian.

World Hypertension Day (WHD) atau Hari Hipertensi Dunia diperingati pada tanggal 17 Mei di setiap tahunnya. Peringatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran hipertensi, dimana sebenarnya penyakit ini dapat dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian dengan senantiasa melakukan pengukuran tekanan darah secara berkala.

Apa sebenarnya Hipertensi?

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah terlalu tinggi. Tekanan darah adalah kekuatan yang diberikan oleh sirkulasi darah ke dinding arteri tubuh, pembuluh darah utama dalam tubuh. Tekanan darah ditulis sebagai dua angka. Angka pertama (sistolik) mewakili tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung berkontraksi atau berdetak. Angka kedua (diastolik) mewakili tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung beristirahat di antara detak jantung. Secara umum, orang dewasa dikatakan memiliki tekanan darah normal jika angkanya berada di atas 90/60 mmHg hingga 120/80 mmHg. Seseorang akan dikatakan mengalami hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik lebih dari atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik lebih dari atau sama dengan 90 mmHg, pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Beberapa faktor  yang meningkatkan risiko seseorang mengalami hipertensi, yaitu berusia diatas 65 tahun, memiliki kelebihan berat badan/obesitas, memiliki riwayat keluarga hipertensi, asupan garam yang tertalu tinggi, kurangnya konsumsi buah dan sayuran, kurang berolahraga, minum terlalu banyak alkohol atau kopi (atau minuman berbasis kafein lainnya), merokok dan kurang tidur.

Mengapa Hipertensi disebut sebagai penyakit “The Silent Killer”?

Hipertensi seringkali terjadi tanpa adanya keluhan ataupun gejala, sehingga penderita tidak mengetahui atau menyadari dirinya mengidap hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Kondisi hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi termasuk penyakit jantung, stroke, Aneurisma (pelebaran atau pembesaran abnormal pada pembuluh nadi karena kondisi dinding pembuluh darah yang lemah), gagal jantung, penyakit ginjal, penebalan atau penyempitan pembuluh darah di mata, sindrom metabolik dan demensia.

Bagaimana mengendalikan dan menangani Hipertensi?

Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai langkah untuk untuk mengendalikan atau mengelola tekanan darahnya, yakni dengan melakukan perubahan pada gaya hidup positif. Misalnya, melakukan aktivitas fisik setidaknya 150 menit setiap minggu (sekitar 30 menit sehari, 5 hari seminggu). Selain itu, hindari merokok, konsumsi makanan yang sehat  (termasuk membatasi natrium/garam), mengurangi konsumsi alkohol, menjaga berat badan yang sehat, istirahat cukup, cek kesehatan secara berkala, serta mengelola stres.

Selain membuat perubahan gaya hidup sehat, beberapa orang dengan tekanan darah tinggi diperlukan penanganan medis dengan konsumsi obat dibawah pengawasan dokter tentunya. Jenis obat hipertensi terdiri dari diuretic, penyekat beta, golongan penghambat ACE inhibitor (seperti enalapril, lisinopril, perindopril dan ramipril) dan  angiotensin-2 receptor blockers/ARBs (seperti candesartan, irbesartan, losartan, valsartan, dan olmesartan), golongan Calcium Channel Blockers/CCB (seperti amlodipine, felodipine dan nifedipine atau diltiazem dan verapamil, dan golongan anti hipertensi lain. (Medical Affairs Dept./AR)

 

Sumber Artikel :

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension

http://www.p2ptm.kemkes.go.id

https://www.nhs.uk/conditions/high-blood-pressure-hypertension/

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/symptoms-causes/syc-20373410

https://pusdatin.kemkes.go.id/

 

Sumber Gambar :

https://media.mnn.com